Des
31

Tahun 2013 akan segera kita tinggalkan. Tahun 2014 pun datang menjelang. Tadi (kemarin) adalah sejarah (nostalgia), sedangkan nanti (besok) adalah harapan.

Dalam konteks nostalgia, mari kita baca sejarah tentang keberadaan delman di stasiun kereta api. Saat itu, sebelum mobil beredar luas, apalagi angkot dan taksi, kendaraan berupa delman tampak mendominasi. Mereka, kusir delman, tampak parlente menyambut calon penumpang. Terkesan melayanani.

Soal pelayanan kusir delman, mengapa kita di jaman ini jarang atau bahkan tidak mau mengikutinya? Siapa pun penumpangnya, alangkah lebih baik para sopir angkot atau taksi berpenampilan dan melayani dengan baik.

Dalam hal ini saya teringat dengan cerita teman saya, orang Jawa yang bekerja di Jakarta. Ketika berkunjung ke Bandung (baca: Stasiun Hall Bandung), katanya, ada orang yang menawarkan: “taksi, taksi, Pak?”. Ketika teman saya menyetujui, eh taksinya ternyata mobil pribadi, omprengan, preman, atau apa lah namanya. Terkesan tidak tertib.

Soal ketertiban itu pula, saudara saya yang dari Jakarta saling tawar-menawar soal argo taksi. Kok taksi di-argo sih? Apa bedanya dengan angkot?

Saudara saya itu memang senangnya sesuai ketentuan. Kalau argo ya argo, tidak ada tawar-menawar. Meskipun terpaksa tanpa argo (ya bagaimana lagi) dan biayanya Rp 50.000,- an, toh saudara saya itu tetap memberikan Rp 100.000,- sebagaimana tawaran sebelumnya.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.