Perjalanan Naik Kereta Api Cibatu-Purwakarta/Purwakarta-Cibatu yang Penuh Liku

Tulisan ini merupakan catatan perjalanan saya dalam 2-3 hari terakhir. Pada hari pertama (Selasa, 9 Oktober 2012) gagal, sedangkan pada hari kedua (Rabu, 10 Oktober 2012) sukses. Menariknya, “kegagalan” dan “kesuksesan” dalam perjalanan ini disebabkan oleh “ketidakpastian” jadwal. Akhirnya, pada hari ketiga (Kamis, 11 Oktober 2012) inilah saya menuliskan ceritanya untuk anda. Untuk berbagi pengalaman.

Membayangkan perjalanan naik kereta api dari Garut ke Jakarta (baca: Cibatu-Bandung-Purwakarta-Jakarta Kota) hanya Rp 6.500,- tampaknya cukup menarik. Kita perhatikan saja bahwa harga tiket kereta api lokal trayek Cibatu-Purwakarta Rp 3.500,- (kalau dari Bandung Rp 3.000,-) dan harga tiket kereta api KRD trayek Purwakarta-Jakarta Kota Rp 3.000,- (kalau ke Bekasi Rp 2.500,-). Murah meriah, bukan? Sayang, tampaknya hal itu hanya dapat dinikmati jika kita berangkat ke arah sebaliknya: Jakarta Kota-Purwakarta-Bandung-Cibatu. Mengapa demikian? Ya, ini soal keterlambatan jadwal saja. Untuk lebih jelasnya, ikuti saja cerita perjalanan saya berikut ini.

Dalam 2-3 hari terakhir ini, saya melakukan perjalanan naik kereta api dari Bandung ke Purwakarta. Tujuannya untuk memastikan jadwal kereta api KRD Purwakarta-Jakarta Kota. Alasannya, karena dalam beberapa waktu ke depan, saya ingin mencoba perjalanan naik kereta api Bandung-Purwakarta dan Purwakarta-Jakarta Kota. Akhirnya, jadwal KRD Purwakarta-Jakarta Kota pun diperoleh meskipun untuk pemberangkatan dari Stasiun Purwakarta saja, yaitu pukul 05.00 WIB, 12.00 WIB, dan 17.00 WIB.

Namun, berdasarkan jadwal pemberangkatan tersebut, tampaknya kurang tepat kalau kita berangkat naik kereta api lokal Cibatu-Purwakarta untuk melanjutkan perjalanan naik KRD Purwakarta-Jakarta Kota. Ya, ini soal ketepatan jadwal saja. Mari kita perhatikan. Meskipun kereta api lokal Cibatu-Purwakarta dijadwalkan tiba di Stasiun Purwakarta pada pukul 10.50 WIB,dalam kenyataannya terlambat, seperti pukul 12.30 WIB. Padahal, KRD Purwakarta-Jakarta Kota sudah berangkat pada pukul 12.00 WIB.

Mengetahui kenyataan seperti ini, tampaknya perjalanan naik kereta api Cibatu-Purwakarta untuk melanjutkan naik KRD Purwakarta-Jakarta Kota menjadi tidak tepat, kecuali jika kita mau menunggu jadwal pemberangkatan KRD Purwakarta-Jakarta Kota pada pukul 17.00 WIB. Jadi, sebetulnya, jauh lebih baik naik kereta api Serayu saja. Ini berbicara tentang pertimbangan harga ekonomis saja. Kecuali itu, khususnya dari Kota Bandung (baca: Stasiun Hall Bandung), kalau naik Argo Parahyangan tentu jauh lebih baik.

Catatan Perjalanan Hari Pertama yang Gagal

Ada pengalaman menarik dalam perjalanan hari pertama ini. Sebagai orang Bandung, saya mencoba memulai perjalanannya dari Stasiun Cicalengka. Pagi-pagi sekali, Selasa, 9 Oktober 2012, saya berangkat dari Bandung ke Cicalengka naik KRD Ekonomi Padalarang-Cicalengka. Meskipun jadwal keberangkatan terlambat selama 20 menit, KRD Ekonomi Padalarang-Cicalengka pun tiba di Stasiun Bandung pada pukul 06.21 WIB dari jadwal pukul 06.01 WIB. Saya pun segera naik KRD tersebut menuju Cicalengka.

Setibanya di Stasiun Cicalengka, saya mengobrol dengan security. “Kereta Api Cibatu-Purwakarta belum datang ya?” tanya saya. Security pun menjawab sambil tersenyum: “Kareta Api Cibatu-Purwakarta sering terlambat”. Sebetulnya, saya juga tahu bahwa kereta api Cibatu-Purwakarta belum lewat karena jalur KRD Padalarang-Cicalengka (dari arah barat) berlawanan dengan jalur kereta api Cibatu-Purwakarta (dari arah timur) sehingga saya bisa memantau. Obrolan saya kepada security itu hanya ingin memastikan saja tentang berhenti atau tidaknya kereta api Cibatu-Purwakarta di Stasiun Cicalengka.

Beberapa waktu kemudian, saya mendekati loket tiket untuk membeli tiket kereta api lokal Cibatu-Purwakarta. “Kereta api lokal Cibatu tidak berhenti,” kata petugas tiket. Maksudnya, tiketnya tidak ada atau tidak dijual. Setelah itu, saya pun berpikir sejenak untuk mencari solusi.Maksudnya, kalau saya naik kereta api lokal Cibatu-Purwakarta, bagaimana tiketnya. Meskipun demikian, saya pun membeli tiket KRD Ekonomi Cicalengka-Padalarang dengan tujuan Stasiun Bandung Rp 1.000,-. KRD Ekonomi Cicalengka-Padalarang ini tentu saja KRD Ekonomi yang tadi saya naiki. Tadinya, mengetahui tiket (Cibatu)-Cicalengka-Purwakarta “tidak dijual” di Stasiun Cicalengka, saya ingin membelinya di Stasiun bandung sambil menunggu kedatangan kereta api lokal cibatu-Purwakarta di Stasiun bandung.

Meskipun tiket KRD Ekonomi Cicalengka-Padalarang sudah diperoleh, saya masih mempertimbangkan apakah saya segera naik KRD Ekonomi Cicalengka-Padalarang itu atau tidak. Alasannya, saya ingin menyaksikan apakah kereta api lokal Cibatu-Purwakarta berhenti atau tidak di Stasiun Cicalengka. “Risiko”-nya, tentu saja, saya harus naik KRD untuk jadwal berikutnya (KRD Ekonomi, Pattas, atau Pattas Ekonomi AC) seandainya KRD Ekonomi Cicalengka-Padalarang ini sudah berangkat.

Tidak lama kemudian, kereta api lokal Cibatu-Purwakarta tiba di Stasiun Cicalengka. Berhenti. Saya melihat, beberapa penumpang KRD Ekonomi Cicalengka-Padalarang turun dan langsung naik ke kereta api lokal Cibatu-Purwakarta. Tentu tidak semua. Karena penasaran, saya pun bertanya: “Kang, tiketnya kumaha?”. “Tiket lokal weh,” jawabnya. (Di sini, ada beberapa tafsiran. Saya kira, mereka akan turun di stasiun kawasan Bandung. Jika mereka bertiket KRD Cicalengka-Padalarang, tentu mereka akan menyerahkan tiket tersebut. Atau jika mereka tidak bertiket, mereka akan membayar dengan uang sebagaimana sering saya saksikan ketika naik kereta jenis apa pun, dalam hal ini kereta api ekonomi).

Sebetulnya, saya pun ingin mengetahui apa yang kelak terjadi. Namun, saya tidak melakukannya. Saya tidak beralih kereta api dari KRD Cicalengka-Padalarang ke kereta api lokal Cibatu-Purwakarta. Selain itu, salah seorang penumpang lain berkata: “Engke mun ditagih tiketna kumaha?”. Ya, dari sini kita memahami bahwa sifat dan sikap manusia itu berbeda-beda.

Sambil berharap-harap bahwa kereta api lokal Cibatu-Purwakarta ini akan terkejar oleh KRD Cicalengka-Padalarang yang saya naiki, saya pun “mengamatinya”. (Mudah-mudahan anda masih ingat ketika membaca catatan perjalanan saya pada 14 Mei 2012 ketika kereta api Cibatu-Purwakarta datang terlambat sehingga saya masih bisa menaikinya. Selain itu, dalam beberapa kesempatan yang lain, saya justru melihat KRD Ekonomi Cicalengka-Padalarang yang tiba di Stasiun Bandung dan dalam waktu yang bersamaan kereta api lokal Cibatu-Purwakarta sedang berhenti lama. Faktanya, bisa. Namun, dalam perjalanan hari pertama ini justru tidak bisa. Namun demikian, uniknya dalam perjalanan hari kedua bisa dilakukan. Ini membuktikan bahwa jadwal kereta api cibatu-Purwakarta ini benar-benar penuh “ketidakpastian”).

Catatan Perjalanan Hari Kedua

Rabu, 10 Oktober 2012. Pagi itu, saya berangkat menuju Stasiun Bandung. Meskipun dibayangi keterlambatan dalam perjalanan menuju Stasiun Bandung, saya tetap mencobanya. Siapa tahu, kereta api lokal Cibatu-Purwakarta belum datang di Stasiun Bandung. Sesuatu yang jawabannya “Ya” dan “Tidak”. Kalau sudah datang dan pergi lagi, bisa-bisa saya gagal untuk kedua kali secara berturut-turut.

Ternyata, beberapa jalan di Kota Bandung sedang macet. Salah satu ruas jalan yang biasanya bisa dilintasi angkot selama lima menit, dalam perjalanan hari itu saya menjalaninya selama 40 menit. Belum lagi ruas-ruas jalan yang lain. Wuih, suatu waktu yang lama. Mengalami hal seperti itu, saya memperkirakan bahwa kereta api lokal Cibatu-Purwakarta sudah berangkat. Maklum saja, jadwalnya kan pada pukul 08.21 WIB, sedangkan waktu sudah menunjukkan 10 menit menjelang pukul 09.00 WIB.

Ketika melintas Jalan Pasirkaliki, tepatnya di atas jembatan kereta api, saya melihat kereta api ekonomi yang melintas menuju Padalarang. Wah, benar-benar terlambat, pikir saya. Saat itu, saya memperkirakan bahwa kereta api ekonomi yang melintas itu KRD Ekonomi Cicalengka-Padalarang atau kereta api lokal Cibatu-Purwakarta. Soalnya tampilannya khas sebagai kereta api ekonomi.

Setibanya di Terminal Stasiun Hall Bandung, saya berjalan menuju Stasiun Bandung. Tepat pukul 09.00 WIB, saya sudah berada di dalam Stasiun Bandung (baca: sebelum masuk peron). Meskipun tahu bahwa jadwal kedatangan kereta api lokal Cibatu-Purwakarta di Stasiun Bandung pada pukul 08.21 WIB, saya masih sempat bertanya kepada security. Siapa tahu, kereta api lokal Cibatu-Purwakarta belum lewat seperti pengalaman saya beberapa waktu yang lalu. “Pak, kereta api dari Cibatu sudah lewat?” tanya saya. “Belum,” jawab security. Bersyukur kereta api yang dituju belum lewat. Beruntung sekali, bukan? Saya pun segera membeli tiket kereta api lokal Cibatu-Purwakarta Rp 3.000,-

Menariknya, satu menit kemudian (pukul 09.01 WIB) ada pengumuman tentang kedatangan kereta api lokal Cibatu-Purwakarta di Stasiun Bandung. Setelah kedatangan kereta api Argo Parahyangan di Stasiun Bandung pada pukul 09.03 WIB, kereta api lokal Cibatu-Purwakarta pun tiba di Stasiun Bandung pada pukul 09.04 WIB. Kemudian, saya segera naik kereta api lokal Cibatu-Purwakarta. Saya masuk kereta paling belakang karena biasanya kereta paling depan dan paling belakang relatif sepi. Saat itu, saya memilih posisi yang strategis, yaitu sisi/pinggir kaca paling kiri. Soalnya, untuk perjalanan menuju arah barat, posisi sebelah kiri inilah yang paling mengasyikkan karena kita bisa melihat pemandangan alam plus lalu lintas jalan tol Cipularang.

Sayang, kereta api lokal Cibatu-Purwakarta ternyata mengalami perbaikan. Saya mengetahui hal itu dari beberapa penumpang yang sempat turun. Ada penumpang yang menyebut lokomotifnya sedang diperbaiki. Ada juga alasan yang lain. Saya sendiri tidak “berani” turun karena khawatir tempat duduk saya yang strategis diisi oleh penumpang yang lain he he.

Tidak tanggung-tanggung. Ternyata kereta api lokal Cibatu-Purwakarta tidak berjalan selama 61 menit. Saat itu, saya mencatat dari pukul 09.04 WIB sampai 10.05 WIB. Sampai-sampai saya menyaksikan perjalanan kereta api yang lain, yaitu: kedatangan KRD Pattas Cicalengka-Bandung (09.11) dan keberangkatan kembali KRD Pattas Bandung-Cicalengka (09.20), kedatangan kereta api ekonomi AC Cicalengka-Bandung (09.24) dan keberangkatan kereta api ekonomi AC Bandung-Padalarang (09.39), serta kereta api barang yang melintas dari arah barat (10.03).

Setelah itu, barulah kereta api lokal Cibatu-Purwakarta yang saya naiki berangkat dari Stasiun Bandung pada pukul 10.05 WIB. Kereta api lokal Cibatu-Purwakarta yang saya naiki ini berhenti di setiap stasiun, kecuali Stasiun Ciroyom dan Stasiun Andir. Khusus untuk Stasiun Ciroyom, keadaan ini sudah berjalan sejak 10 Juni 2012. Jadi, dalam perjalanan kali ini, kereta api lokal Cibatu-Purwakarta tiba di Stasiun Ciroyom (pukul 10.08 WIB, langsung lewat), Stasiun Andir (10.10, langsung lewat), Stasiun Cimindi (10.13), dan Stasiun Cimahi (10.19).

Di antara Stasiun Cimahi dan Stasiun Gadobangkong, kereta api ekonomi AC Padalarang-Bandung-Cicalengka melintas pada pukul 10.21 WIB. Kereta api ekonomi AC Padalarang-Bandung-Cicalengka ini merupakan kereta api ekonomi AC yang tadi saya saksikan di Stasiun Bandung. Setelah persilangan itulah, kereta api lokal Cibatu-Purwakarta berjalan kembali dan berhenti di Stasiun Gadobangkong pada pukul 10.25 WIB. Dua menit kemudian (10.27), KRD Ekonomi Padalarang-Cicalengka melintas. KRD Ekonomi Padalarang-Cicalengka inilah yang saya saksikan di atas jembatan Pasirkaliki tadi yang sebelumnya memakai trayek Cicalengka-Padalarang.

Selanjutnya, kereta api lokal Cibatu-Purwakarta berhenti di Stasiun Padalarang (10.31) dan Stasiun Cilame (10.43). Setelah kereta api Argo Parahyangan dari Jakarta (Gambir)-Bandung melintas pada pukul 10.58 WIB, kereta api Cibatu-Purwakarta diberangkatkan kembali semenit kemudian. Setelah kereta api lokal Cibatu-Purwakarta berhenti di Stasiun Sasaksaat (11.09), kereta api Serayu Jakarta Kota-Kroya melintas (11.15).

Setelah bersilang dengan kereta api Argo Parahyangan dan kereta api Serayu, perjalanan kereta api lokal Cibatu-Purwakarta dapat dikatakan lancar. Selanjutnya, kereta api lokal Cibatu-Purwakarta ini berhenti di Stasiun Maswati (11.23), Stasiun Rendeh (11.31), Stasiun Cikadongdong (11.38), Stasiun Cisomang (11.47), Stasiun Plered (11.57), Stasiun Sukatani (12.05), Stasiun Ciganea (12.17), dan terakhir di Stasiun Purwakarta (12.30). Sebelumnya, pada pukul 12.16 WIB, kereta api Argo Parahyangan dari arah Jakarta (Gambir) melintas menuju Bandung.

Setibanya di Stasiun Purwakarta pada pukul 12.30 WIB, saya beristirahat sejenak sambil beraktivitas seperlunya. Seperti biasa, setelah keluar peron Stasiun Purwakarta, kali ini saya menyaksikan lima trayek angkot yang siap menampung. Tampak angkot 01 berwarna merah-hijau muda, angkot 02 berwarna merah-biru, angkot 03 berwarna merah-kuning, dan angkot 04 berwarna merah-coklat, serta angkot 43 berwarna biru-kuning.

Ada satu cerita dari obrolan dengan salah seorang pedagang ketika berada di dalam kereta api lokal Cibatu-Purwakarta. Meskipun saya tidak mengajak obrol, seorang pedagang itu menceritakan bahwa setiap hari Minggu, kereta api lokal yang bernama Cibatu ini banyak dipenuhi penumpang. Maksudnya orang-orang yang berwisata. Rekreasi. Lalu, saya mengonfirmasi. “Kalau Sabtu, bagaimana, Pak?” tanya saya. “Tidak ramai. Yg ramai itu Minggu,” jawabnya. Setelah itu, saya dan Bapak pedagang tadi mengobrol ngalor-ngidul sampai Stasiun Ciganea. Tampaknya Bapak pedagang tadi ingin beristirahat sejenak di dekat tempat duduk saya. Sebagaimana yang saya ceritakan tadi, beberapa kursi di kereta paling belakang, relatif sepi penumpang. Saya dan beberapa penumpang yang lain “memiliki 6 kursi. Maksudnya kursi A-B-C yang berhadap-hadapan. Sementara beberapa penumpang lainnya ada yang memiliki 4 kursi. Maksudnya kursi D-E yang berhadap-hadapan. Keadaan seperti itu tentu saja sangat jauh berbeda dari kereta tengah yang berisi penuh penumpang. Itulah mengapa saya lebih memilih kereta paling depan atau kereta paling belakang.

Karena waktu istirahat hanya lebih kurang 30 menit, setelah beristirahat itu, saya membeli tiket kereta api lokal Cibatu yang kini bertrayek Purwakarta-Cibatu. Karena tujuan saya adalah Bandung maka saya membeli tiket Rp 3.000,- Memasuki peron Stasiun Purwakarta, saya menyempatkan diri untuk mengobrol dengan security. Tujuannya tentu saja untuk memastikan jadwal KRD Purwakarta-Jakarta Kota sebagaimana tujuan saya mengunjungi Stasiun Purwakarta.

Setelah lokomotif disambungkan dengan kereta, kereta api lokal Purwakarta-Cibatu mulai berangkat pada pukul 13.08 WIB dari jadwal yang semestinya pada pukul 13.00 WIB. Kali ini, saya berada di kereta paling depan. Meskipun memiliki tiket, kali ini saya berdiri saja di pintu. Ya, agar tidak kesal. Jika dari Bandung ke Purwakarta saya berada di sisi/pinggir kiri, maka dari Purwakarta ke Bandung saya berada di sisi/pinggir kanan meskipun berdiri di pintu. Padahal tempat duduk kereta masih banyak yang kosong. Tidak apa-apa-lah, yang penting saya tidak kesal dan sekaligus bisa menikmati lalu lintas jalan tol Cipularang.

Dalam perjalanan menuju Bandung, kereta api lokal Purwakarta-Cibatu berhenti di setiap stasiun, kecuali Stasiun Andir dan Stasiun Ciroyom. Setelah berangkat dari Stasiun Purwakarta pada pukul 13.08 WIB, kereta api lokal Purwakarta-Cibatu berhenti di Stasiun Ciganea pada pukul 13.25 WIB. Tampak pula kereta api Argo Parahyangan Bandung-Jakarta (Gambir) melintas pada pukul 13.26 WIB.

Lalu, kereta api lokal Purwakarta-Cibatu berhenti secara berturut-turut di Stasiun Sukatani (13.38), Stasiun Plered (13.46), Stasiun Cisomang (13.58), Stasiun Cikadongdong (14.09), Stasiun Rendeh (14.17), Stasiun Maswati (14.26), dan Stasiun Sasaksaat (14.35). Setelah kereta api Serayu dari Kroya ke Jakarta Kota melintas pada pukul 14.37 WIB, kereta api lokal Purwakarta-Cibatu ini diberangkatkan kembali untuk berhenti di Stasiun Cilame pada pukul 14.50 WIB. Lima menit kemudian (14.55), kereta api Argo Parahyangan dari Bandung ke Jakarta (Gambir) melintas.

Kereta api lokal Purwakarta-Cibatu pun berhenti lagi di Stasiun Padalarang pada pukul 15.08 WIB dan kemudian di Stasiun Gadobangkong (15.15). Setelah KRD Ekonomi Cicalengka-Padalarang memasuki Stasiun Gadobangkong (15.17), kereta api lokal Purwakarta-Cibatu melanjutkan perjalanannya dan berhenti lagi di Stasiun Cimahi (15.21), Stasiun Cimindi (15.28), Stasiun Andir (15.33, langsung lewat), Stasiun Ciroyom (15.35, langsung lewat), dan perjalanan saya berakhir di Stasiun Bandung pada pukul 15.40 WIB. Hebat! Padahal jadwal di tiket pada pukul 15.43 WIB loh! Di Stasiun Bandung tampak KRD Pattas ekonomi AC Bandung-Cicalengka yang tampaknya baru berjalan dari arah Padalarang (baca: KRD Pattas ekonomi AC Padalarang-Bandung-Cicalengka).

Setelah turun di Stasiun Bandung, saya pun menyaksikan kereta api lokal Purwakarta-Cibatu yang tentu saja berjalan sampai Stasiun Cibatu. Sementara KRD Pattas ekonomi AC Padalarang-Bandung-Cicalengka masih berhenti.

Sampai jumpa lagi di perjalanan-perjalanan lainnya.

Perjalanan dari Bandung ke Purwakarta Naik Kereta Api Lokal Cibatu-Purwakarta (14 Mei 2012)

Perjalanan dari Purwakarta ke Bandung Naik Kereta Api Lokal Purwakarta-Cibatu (14 Mei 2012)

4 Tanggapan to “Perjalanan Naik Kereta Api Cibatu-Purwakarta/Purwakarta-Cibatu yang Penuh Liku”

  1. share jadwal KA purwakarta-jakartakota dong mas

  2. kalo tiket KRD belinya harus hari-H ya om?
    kalo belinya beberapa hari sebelumnya bisa gak?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: