Dari Bandung ke Surabaya dan dari Surabaya ke Bandung Naik Kereta Api Pasundan

Tulisan ini merupakan catatan perjalanan saya ketika berangkat dari Bandung ke Surabaya naik kereta api “Pasundan”. Kereta api “Pasundan” ini merupakan kereta api kelas ekonomi yang bertuliskan trayek: Stasiun Kiaracondong-Stasiun Gubeng.

Jika biasanya saya pergi mendadak, dalam arti beri tiket langsung di loket, maka dalam perjalanan kali ini saya mencoba memesan tiket terlebih dahulu sehari sebelumnya. Jumat, 6 September 2013 pagi, saya memesan tiket kereta api “Pasundan” di Stasiun Hall Bandung.

“Bu, pesan tiket ‘Pasundan’,” ujar saya. “Tulis dulu di formulir,” tanggapnya. Meskipun saya memaklumi karakter setiap orang, termasuk petugas tiket itu, saya memandang bahwa petugas tiket itu kurang ramah. Maksud kurang ramah di sini kalau dibandingkan dengan karyawan swasta di sebuah bank. Kalau dibandingkan dengan karyawan nonbank sih, ya gitu deh. [Mari kita bersikap bijak. Mungkin petugas tiket yang saya hadapi saat itu hanyalah salah seorang dari sekian orang yang ramah. Coba perhatikan, kalau di bank kan ada suara dan senyum he he he.]

Ok-lah. Singkat cerita, saya mulai menulis pesanan di selembar formulir yang tersedia di sana. Lalu, mengambil “nomor antre”. Hanya tertinggal dua nomor. Kemudian dipanggillah nomor antre saya dan…, tentu saja memesan tiket sambil menyerahkan formulir tadi.

“Berapa, Bu?” tanya saya. “Rp 55.000,-,” jawabnya. Ya, saya kira, harga tiket kereta api “Pasundan” yang Rp 55.000,- sudah tepat karena kabarnya sudah dimulai sejak 1 September 2013. Sebelumnya kan Rp 100.000,-

Karena saya menyadari bahwa saudara saya yang di Ciamis hendak pergi di Stasiun Banjar, saya pun coba bertanya: “Bu, kalau beli tiket untuk yang berangkat dari Stasiun Banjar bisa beli di sini?”. “Oh, nggak bisa,” jawabnya. Jawaban itu sama seperti pernyataan saudara saya yang mengungkapkan: “Nanti di Banjar-nya susah”. He he he, maklumlah, kini suasana “perkeretaapian” sudah ketat. [Sebetulnya sih sudah dari dulu, tapi….]

Akhirnya, saya pun mendapatkan tiket kereta api “Pasundan” dengan jadwal berangkat pukul 05.30 WIB dan jadwal tiba pukul 19.55 WIB.

Keesokan harinya, Sabtu, 7 September 2013, saya bersiap-siap untuk pergi ke Stasiun Kiaracondong. Waktu subuh itu, saya naik taksi pakai argo. [Saya pernah naik taksi nggak pakai argo alias paket Rp 50.000,- atau mencarter angkot yang lewat di tempat tinggal saya juga Rp 50.000,-. Yang penting, sampai.] Taksi yang saya naiki pun tiba di halaman Stasiun Kiaracondong. Tentu saja ketika melewati pintu parkir, saya diminta sopir taksi Rp 2.000,- untuk uang parkir. Setelah melewati pintu parkir itu, saya pun tiba di Stasiun Kiaracondong. Tampak biaya taksi Rp 41.000,-an. Namun, biasanya, saya memberi kepada sopir taksi itu Rp 50.000,-.

Melewati pintu peron Stasiun Kiaracondong, security memeriksa tiket untuk mencocokkan dengan identitas diri (baca: KTP). Cocok. Lalu, barulah tiket saya distempel (cap). Waktu tampaknya tinggal 30 menit lagi.

Jam saya menunjukkan pukul 05.33 WIB. Kereta api “Pasundan” yang saya naiki mulai berangkat. Keadaan isi kereta api sangat sepi. Maksudnya, tidak ada pedagang dan sejenisnya. Kecuali…, pedagang dari petugas kereta api yang bolak balik menjual dagangannya. Biasalah, nasi goreng yang Rp 15.000,- itu he he he.

Keadaan mulai ramai ketika kereta api “Pasundan” berhenti di Stasiun Cipeundeuy. Banyak pedagang yang hilir mudik di atas kereta api. Ketika kereta api “Pasundan” hendak berangkat kembali, keadaan kereta api pun sepi karena para pedagang dan sejenisnya sudah turun.

Sampailah saya di Stasiun Banjar. Saya melihat-lihat keluar karena ada saudara yang saya ceritakan tadi akan naik kereta api “Pasundan”. Sayang, nomor kursi duduknya terpisah. Saya pun menjemputnya di atas kereta api karena penumpang biasa naik di mana saja, yang penting sudah di dalam kereta api. Mungkin karena di Stasiun Banjar banyak penumpang, tiket saudara saya belum distempel. “Tadi kan sama petugasnya disuruh langsung,” ujarnya. Namun, security yang berada di atas kereta api pun tampak sigap. Ia berlari mendekati petugas yang dimaksud. Tiket kereta api saudara saya pun sudah distempel.

Kereta api “Pasundan” mulai berangkat kembali. Wow, saya memperhatikan, ternyata sejak dari Stasiun Banjar, banyak pedagang dan sejenisnya yang hilir mudik di dalam kereta api selama perjalanan. Tidak tanggung-tanggung, hingga Jawa Timur loh.

Di Yogyakarta, saya punya saudara. Tentu saja, saya refleks melihat jam. Oh, kereta api “Pasundan” berhenti di Stasiun Lempuyangan pada pukul 13.26 WIB. Tampak juga kereta api “Pasundan” dari Surabaya ke Bandung. [Saya sengaja tidak menulis tempat pemberhentian dan waktunya di beberapa stasiun karena “lupa”. Selain itu, berhenti atau tidaknya, ada kalanya tidak sesuai dengan “papan pengumuman”. Saya tidak menulis secara pasti karena khawatir memberikan informasi yang salah.]

Informasi yang salah? Ya! Salah satunya di Wonokromo. Menurut petugas dan beberapa penumpang di dalam kereta api mengatakan bahwa kereta api “Pasundan” tidak berhenti di Wonokromo. Selain itu, di antara penumpang pun sambil bertanya-jawab dengan ke-sok-tahu-an-nya. [Maksudnya, bisa benar, juga bisa salah.]

Saya pun tidak bisa menjawabnya ketika ada penumpang yang bertanya: “Di Wonokromo berhenti nggak ya?”. Saya pun tergerak ketika ada ibu-anak kecil yang sering kali ditelepon saudaranya di sana. Tadinya, ibu-anak kecil itu “terpaksa” turun di Stasiun Gubeng.

Ternyata, kereta api “Pasundan” berhenti di Wonokromo. Segera saja, beberapa penumpang, terutama ibu-anak kecil tadi, saya turunkan sambil mengangkat gembolan hi hi hi. [OK, selamat jalan, Bu. Semoga selamat tiba di rumah saudaranya.]

Akhirnya, kereta api “Pasundan” yang saya naiki tiba di Stasiun Gubeng pada pukul 20.15 WIB dari rencana pukul 19.55 WIB. Saya pun turun. Tentu saja bersama saudara saya dan penumpang lainnya yang juga turun di Stasiun Gubeng. Setelah itu, kereta api “Pasundan” pun meneruskan perjalanannya hingga Stasiun Semut. Itu yang saya ingat.

[Di Surabaya, saya “hidup” tiga hari-dua malam. Dari sekian kesan, ada satu kesan menarik. Saya tahu bahwa walikota Surabaya bagus: kawasan kota sebagai hasil programnya relatif bersih dan rapi. Namun, ada satu perilaku yang kurang lebih sama dengan Bandung: perilaku pengendara motornya. Ah, sama saja. (Saya senang mengatakan bahwa kalau pemimpinnya bagus, perilaku kita pun harus ikut bagus. Jangan egois.]

Karena saya berencana pulang ke Bandung pada Senin, 9 September 2013, saya pun memesan tiket kereta api “Pasundan” di Stasiun Gubeng pada Minggu, 8 September 2013. Harganya sama, yaitu Rp 55.000,-. Dalam tiket kereta api “Pasundan” itu bertuliskan jadwal berangkat pukul 08.15 WIB dan direncanakan jadwal tiba pukul 22.22 WIB.

Karena saya berencana pulang ke Bandung, sedangkan saudara saya turun di Stasiun Banjar, saya pun mulai memesan tiket dengan bertanya terlebih dahulu. [Sebetulnya sih tidak perlu. Namun, saya melakukannya untuk survey saja.] “Mbak, kalau pesan tiket dengan tempat turun yang berbeda bisa mengisi satu formulir saja ya?” tanya saya kepada “petugas” yang kelihatannya seperti anak-anak sekolah. [Lagi Praktik Kerja Lapangan kali ya?!] “Oh, dua,” jawabnya.

OK deh, saya mengisi dua formulir. Satu untuk saya yang ke Bandung. Satu lagi untuk saudara saya yang ke Stasiun Banjar. Lalu, saya pun berbaris karena tampaknya tidak ada pemberian nomor antre.

Tiba di loket, Mbak petugas tiket pun melayani. “Mbak, kursi duduknya berdekatan ya. Karena ini satu rombongan.” Saya menjelaskan seperti itu karena menyadari bahwa saya menyerahkan dua formulir (satu untuk tujuan Bandung dan satu lagi untuk tujuan Banjar).

“Pak, kalau pesan seperti ini, formulirnya satu saja,” tanggap Mbak petugas loket itu. Saya pun menanggapi, “Tadi kata petugas yang di sana bilangnya seperti itu”. Mbak petugas loket itu pun diam, tidak menanggapi lagi. [Mungkin alasan saya logis he he he. Oh ya, kok karakter orangnya tidak seperti di bank seperti yang saya ceritakan tadi ya. Mestinya ada suara dan senyum. Tapi, OK-lah, saya masih bisa memaklumi.]

Keesokan harinya, Senin, 9 September 2013, saya sudah bersiap-siap di Stasiun Gubeng. Setelah tiket distempel, saya menunggu di ruang tunggu. Nggak kebagian kursi karena semua kursi sudah terisi calon penumpang. Banyak juga yang masih berdiri.

Setelah pemberitahuan dari pengeras suara bahwa kereta api “Pasundan” akan segera datang (dari arah timur. Saya kira, dari arah Stasiun Semut), semua penumpang mulai memasuki peron. Tepat pada pukul 08.08 WIB, kereta api “Pasundan” tiba di Stasiun Gubeng. Saya dan saudara saya pun mulai naik kereta api “Pasundan”. Tepat pada pukul 08.17 WIB, dari jadwal pukul 08.15 WIB, kereta api “Pasundan” mulai meninggalkan Stasiun Gubeng. Selamat tinggal Surabaya!

Tidak ada pedagang dan sejenisnya di dalam kereta api, kecuali petugas yang bolak balik menawarkan makanan/minuman dan bantal (untuk tiduran). Sejak pemberangkatan dari Stasiun Gubeng, kereta api “Pasundan” mulai berhenti di Stasiun Mojokerto pada pukul 08.53 WIB. Sejak Stasiun Mojokerto itulah banyak pedagang dan sejenisnya yang “menguasai” isi kereta api. Sampai Banjar-Garut loh!

Terlepas dari cerita itu, kereta api “Pasundan” yang saya naiki tiba di Stasiun Lempuyangan pada pukul 13.36 WIB. Seperti pemberangkatan saya dari Bandung ke Surabaya pada 7 September 2013 lalu, tampak juga kereta api “Pasundan” dari Bandung ke Surabaya di Stasiun Lempuyangan.

Singkat cerita, ketika kereta api “Pasundan” tidak berhenti di Stasiun Kroya, saya dan saudara saya “berdiskusi” bagaimana kalau kereta api “Pasundan” ini juga tidak berhenti di Stasiun Banjar. Meskipun saya meragukan hal itu karena Stasiun Banjar merupakan stasiun yang penting (baca: bengkel). Lagi pula, tentu (semoga) akan ada banyak penumpang yang turun di Stasiun Banjar. [Kami menduga, kereta api “Pasundan” ini tidak berhenti di Stasiun Kroya mungkin di Stasiun Kroya tidak ada penumpang yang pergi ke Bandung. “Diskusi” kami pun bergulir, dalam perjalanan lainnya, kalau mau turun di tempat A maka tiket kita pun harus tertulis turun di tempat A. Agar jelas dan tenang. Masih ingat kan dengan cerita pemesanan tiket tadi bahwa saya sudah menyerahkan dua formulir. Satu untuk tujuan Bandung dan satu lagi untuk tujuan Banjar. Selain itu, dalam konteks lain, seandainya kami memesan/membeli tiket hingga ke Bandung, mungkin tiket dari Banjar ke Bandung dianggap sudah habis. Padahal, kenyataannya kan tidak seperti itu. Coba perhatikan, kursi duduk yang ditinggalkan saudara saya yang turun di Banjar mungkin akan kosong hingga di Bandung. Lumayan tuh potensi laku penjualan tiketnya. Bagi penumpang sih nggak masalah karena harga jauh-dekat tetap Rp 55.000,-. Terlepas dari itu, kelebihan kereta api sejak penataan, yaitu di antara penumpang tidak saling menyerobot kursi duduk. Soalnya, kursi duduk sudah disesuaikan.]

Singkat cerita, saudara saya turun di Stasiun Banjar menjelang maghrib. Betul kan, kursi yang ditinggalkannya sudah kosong. Seandainya ada calon penumpang yang membeli tiket menuju Bandung mungkin PT KAI akan memperoleh Rp 55.000,- lagi. Sebaliknya, dari sudut pandang penumpang, kalau tiket kereta api sudah habis, apa boleh buat, kita bisa naik pada hari-hari berikutnya atau naik kendaraan lain.

Akhirnya, kereta api “Pasundan” yang saya naiki tiba di Stasiun Kiaracondong pada pukul 23.11 WIB dari rencana pukul 22.22 WIB.

Meskipun di luar sana masih ada angkot (biasanya saya seperti itu ataupun dijemput), saya hendak naik taksi saja. Biasalah kalau di tempat seperti ini, biayanya paket. “Ke…, argo ya Pak?” tanya saya. Maklum, ada taksi yang menawarkan Rp 80.000,- dan Rp 75.000,- (tentu tergantung tujuannya).

“Rp 50.000,- ya, Pak” tawar saya. “Kemarin juga segitu,” ujar saya. [Padahal sopirnya berbeda he he he. Namun, ini kan ukuran standar saya.]

Setelah sopir itu meminta tambahan Rp 5.000,- saya tetap bertahan. Soalnya, saya rileks. Pakai angkot atau dijemput pun bisa. Pakai angkot ke tempat saya, bisa Rp 13.000,- hingga Rp 15.000,- loh untuk tiga kali angkot. [Selain itu, biasanya, kalau rombongan lebih baik pakai taksi saja. Coba saja hitung, Rp 15.000,- dikali 2-3 orang saja biayanya tidak jauh berbeda.]

Singkat cerita, taksi sepakat dengan biaya Rp 50.000,- [He he he, tulisan nama depan sopirnya ditutup kertas. Tampaknya “kompromis”. Soalnya ada kesan, ditutup tidak, dibuka pun tidak. Mungkin kalau saya bertanya, hal-hal “kompromis” itu masih bisa dijawab Pak Sopir. Saya kira, istilah “kompromis” hanya saya saja yang memahami. Setiap orang punya makna bahasanya sendiri.]

“Pak, ada Rp 1.000,-,” pinta sopir kepada saya. Saya pun memberikannya. Uang sebesar itu untuk “Pak Ogah” di Jalan Kiaracondong (Jalan Ibrahim Adjie).

Akhirnya, saya pun tiba di rumah. Sampai jumpa di cerita perjalanan saya yang lain.

5 Tanggapan to “Dari Bandung ke Surabaya dan dari Surabaya ke Bandung Naik Kereta Api Pasundan”

  1. berapa jam bandung surabaya yampai naik kerta pasudan

  2. beli tikeet di st hall, naik kereta di kiaracondong, emang kalo dari st hall atau stasiun bandung gak ada ya?harga tiket bandung-surabaya itu 55000 bwt kelas ekonomi?

  3. tanggL brapa kereta pasundan brangkat ke surabaya..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: